Cerpen Surat dari kelas belakang
Hari itu seperti biasa, langit pagi menyambut dengan mendung. Di bangku paling belakang kelas 9A, duduk seorang siswa bernama Raka. Ia bukan anak yang menonjol. Nilainya pas-pasan, dan ia jarang angkat tangan saat pelajaran. Tapi diam-diam, Raka suka menulis. Bukan di buku pelajaran, tapi di kertas-kertas kecil yang ia sembunyikan di bawah mejanya.
Setiap jam kosong atau saat guru belum masuk, Raka menulis tentang apa pun yang ia lihat: teman-teman yang tertawa, guru yang mengajar penuh semangat, bahkan tentang ibu kantin yang selalu tersenyum meski dagangannya sering tak laku. Baginya, sekolah adalah dunia kecil yang penuh cerita.
Suatu hari, guru Bahasa Indonesia mengumumkan lomba menulis cerpen tingkat sekolah. Teman-temannya ramai mendaftar, tapi Raka hanya diam. Ia tahu dirinya bukan siapa-siapa.
Namun diam-diam, ia menaruh salah satu tulisannya judulnya “Sekolah dari Bangku Belakang” di meja guru. Ia tidak mencantumkan nama.
Seminggu kemudian, pengumuman lomba keluar. Juara satu diraih oleh “Raka, 9A, dengan cerpen ‘Sekolah dari Bangku Belakang’.” Sontak semua mata tertuju padanya.
Guru berkata, “Terkadang, yang diam bukan berarti tidak punya suara. Terima kasih, Raka, sudah menunjukkan indahnya sekolah dari sudut pandang yang tak semua orang lihat.”
Sejak hari itu, Raka tak lagi duduk sembunyi. Ia duduk di tengah, bersama cerita dan keyakinan baru dalam dirinya.
Komentar
Posting Komentar