Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Puisi tentang anak layangan

"Anak Layangan" Di padang luas saat mentari bersinar,   Tampak bocah berlari, riang dan segar,   Tangan menggenggam benang panjang,   Menerbangkan layang ke angkasa nan lapang. Layangannya menari di biru langit,   Beradu tinggi, menembus angin yang sulit,   Matanya tajam, penuh harap,   Seolah mimpi ikut terbang tanpa lelah. Terkadang putus, kadang tersangkut,   Namun semangatnya tak pernah surut,   Ia sambung lagi, ia buat lagi,   Dengan tangan kecil dan hati yang gigih. Anak layangan bukan sekadar bermain,   Ia belajar tentang jatuh dan bangkit kembali,   Tentang harapan yang terus dikejar,   Dan tentang bahagia yang sederhana benar. Biarlah ia berlari di tanah terbuka,   Menjaga benangnya, menatap cakrawala,   Sebab dari sana, ia belajar arti cita,   Meski kecil, ia punya mimpi setinggi angkasa.

Pidato tentang kasih sayang orang tua

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya hormati Bapak/Ibu guru, dan yang saya cintai teman-teman sekalian. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat berkumpul di sini dalam keadaan sehat. Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan pidato singkat tentang "Kasih Sayang Orang Tua." Teman-teman yang saya banggakan, Orang tua adalah sosok paling berjasa dalam hidup kita. Sejak kita lahir, mereka telah merawat, membimbing, dan menyayangi kita tanpa pamrih. Ibu dengan penuh cinta mengandung dan melahirkan kita, sedangkan ayah bekerja keras demi masa depan kita. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan kebahagiaan mereka demi kita. Namun, sering kali kita lupa menghargai semua pengorbanan itu. Kita membantah, tidak mendengarkan, bahkan menyakiti hati mereka dengan sikap kita. Mulai hari ini, marilah kita lebih menghormati orang tua, menunjukkan rasa sayang, dan membanggakan mereka...

Cerpen Surat dari kelas belakang

Hari itu seperti biasa, langit pagi menyambut dengan mendung. Di bangku paling belakang kelas 9A, duduk seorang siswa bernama Raka. Ia bukan anak yang menonjol. Nilainya pas-pasan, dan ia jarang angkat tangan saat pelajaran. Tapi diam-diam, Raka suka menulis. Bukan di buku pelajaran, tapi di kertas-kertas kecil yang ia sembunyikan di bawah mejanya. Setiap jam kosong atau saat guru belum masuk, Raka menulis tentang apa pun yang ia lihat: teman-teman yang tertawa, guru yang mengajar penuh semangat, bahkan tentang ibu kantin yang selalu tersenyum meski dagangannya sering tak laku. Baginya, sekolah adalah dunia kecil yang penuh cerita. Suatu hari, guru Bahasa Indonesia mengumumkan lomba menulis cerpen tingkat sekolah. Teman-temannya ramai mendaftar, tapi Raka hanya diam. Ia tahu dirinya bukan siapa-siapa. Namun diam-diam, ia menaruh salah satu tulisannya judulnya “Sekolah dari Bangku Belakang” di meja guru. Ia tidak mencantumkan nama. Seminggu kemudian, pengumuman lomba keluar. Juara satu ...